Kuingin pulang! Kumerindukanmu, ibu”
Dengan pekur yang merajai
Kumencoba membasuh hati
Walau ada secarik kertas yang masih merindukan penaku
Dengan pekur yang merajai
Kumencoba membasuh hati
Walau ada secarik kertas yang masih merindukan penaku
“Kuingin pulang! Kumencintaimu, ibu”
Dengan lirih kunyanyikan senandungmu
Yang selalu siap menemani sajak-sajakku
Hingga kulelah akan pertemuan yang selalu kuimpikan denganmu
Dengan lirih kunyanyikan senandungmu
Yang selalu siap menemani sajak-sajakku
Hingga kulelah akan pertemuan yang selalu kuimpikan denganmu
Kata-kata cinta, terucap indah
Menggaung dalam renda-renda hatiku yang telah mati
Bahkan, ku tak mampu tuk menahan getir yang tersemai
Butir-butir cinta, air mataku
Mengalir dalam relung yang telah lama tak kusinggahi
Basah, membanjiri seluruh sisa hidupku yang peluh akan kasih
Menggaung dalam renda-renda hatiku yang telah mati
Bahkan, ku tak mampu tuk menahan getir yang tersemai
Butir-butir cinta, air mataku
Mengalir dalam relung yang telah lama tak kusinggahi
Basah, membanjiri seluruh sisa hidupku yang peluh akan kasih
“Ibu, kutitipkan seuntai bait untukmu”
Menari dengan nada-nada yang semakin pilu
Yang takkan pernah berhenti
Hingga sisa-sisa waktu yang selalu kunanti
Menari dengan nada-nada yang semakin pilu
Yang takkan pernah berhenti
Hingga sisa-sisa waktu yang selalu kunanti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar